Sekaten dan Gerebeg Mulud
Dibaca : 575 Kali

Tradisi atau upacara tradisional ini adalah untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menjadi acara yang menarik dan ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarat Jogja dan bisa menjadi suguhan wisata budaya yang menarik bagi pengunjung.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 bulan Maulud, yaitu bulan ketiga pada tahun Jawa biasanya diperingati dengan Upacara Grebeg Maulud. Sekaten merupakan upacara pendahuluan dari peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad. Sekaten biasanya diselenggarakan sejak satu minggu sebelum tanggal 12 Maulud, yaitu pada tanggal 5 hingga tanggal 12 Maulud.

Ada beberapa pendapat dari mana asal usul kata Sekaten. Ada yang berpendapat kata sekatan berasal dari kata Sekati yaitu nama dari dua perangkat pusaka Kraton berupa gamelan yang disebut Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasa dari kata suka dan ati (suka hati = senang hati), karena orang-orang menyambut hari Maulud dengan perasaan sykur dan bahagia dalam perayaan pasar malam di Alun-alun Utara. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Sekaten berasal dari kata “Syahadataini”, yaitu dua kalimat syahadat dalam agama Islam.

Pada masa-masa permulaan perkembangan agama Islam di Jawa, salah seorang dari Wali Sanga, yaitu Sunan Kalijaga menggunakan instrument musik Jawa Gamelan, sebagai sarana memikat masyarakat luas agar datang untuk menikmati pergelaran karawitannya.

Sunan Kalijaga menggunakan dua perangkat gamelan yang memiliki laras suara yang merdu, yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Di sela-sela pergelaran, kemudian dilakukan khotbahdan pembacaan ayat-ayat suci Kitab Al-Qur’an. Bagi mereka yang bertekad untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat. Istilah “Syahadat” yang diucapkan sebagai “Syahadatain” kemudian berangsur-angsur berubah dalam pengucapannya menjadi “Syakataian” dan akhirnya menjadi istilah “ Sekaten” hingga sekarang.

Pada tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan, Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya yaitu bangsal Sri Manganti, dan dibawa ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara ( Keben) dan pada sore harinya mulai dibunyikan di tempat ini. Kemudian pada pukul 23.00 hingga pukul 24.00 kedua perangkat gamelan tersebut dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta, yang diiringi abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit Kraton berseragam lengkap.

Sebagian besar, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya percaya bahwa dengan turut berpastisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW , mereka akan mendapat imbalan pahala dari Yang Maha Kuasa, dan akan dianugerahi awet muda. Sebagai syaratnya, mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten.

Oleh karena itu banyak orang yang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih lengkap dengan lauk pauknya di halaman Kemandungan, di alun-alun Utara maupun depan Masjid Agung Yogyakarta selama penyelenggaraan Sekaten. Pada acara ini, para petani juga memohon agar panennya yang akan datang berhasil. Dan untuk memperkuat tekadnya, mereka membeli cambuk yang dibawa pulang.

Sebelum upacara Sekaten dilaksanakan, ada dua hal yang harus dipersiapkan, yaitu persiapan fisik dan spiritual. Persiapan fisik adalah beruapa peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalamu upacara Sekaten, yaitu Gamelan Sekaten, Gending Sekaten, sejumlah uang logam dan sejumlah bunga kanthil, busana seragam Sekaten, samir untuk niyaga dan masih banyak pelengkapan lainnya, dan tidak ketinggalan adalah naskah riwayat maulud Nabi Muhammad SAW.

Dalam rangkaian acara Grebeg Maulud, dua hari sebelum perayaan Gerebeg, diadakan acara Tumplak Wajik di halaman Magangan dari Kraton Yogyakarta pada pukul 4 sore. Hal ini menandakan dimulainya persiapan pembuatan makanan yang akan dipakai untuk membuat gunungan. 

Wajik adalah makanan yang terbuat dari beras ketan. Untuk mengiringi perayaan, maka dimainkan komposisi music “kothekan”, yaitu dengan memukul-mukulkan berbagai macam intrumen kayu seperti kentongan. 

Inilah puncak dari perayaan Sekaten yaitu Gerebeg Mulud. Gerebeg Mulub diselenggarakan pada hari ke dua belas bulan Mulud Kalender Jawa. Upacara ini dimulai pada pukul 7.30 pagi, yang diawali dengan parade pengawal kerajaan yangterdiri dari 10 unit, yaitu Wirobrojo, Daeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, Mantrijeron, Surokarso, dan Bugis.

Dalam parade ini, setiap unit memiliki seragam masing-masing, parade dimulai dari halaman utara Kemandungan kraton, dilanjutkan melewati siti hinggil menuju Pagelaran dan kemudian menuju alun-alun utara.

Pada pukul 10 pagi, gunungan diberangkatkan dari Kraton yang didahului oleh pasukan bugis dan Surokarto. Gunungan terdiri dari makanan seperti sayuran, kacang, lada merah. Telur dan beberapa pelengkapang makanan yang terbuat dari beras ketan . Bentuknya dibuat menyerupai gunung ini melambangkan kemakmuran dan kekayaan tanah Mataram.

Parade disambut dengan tembakan-tembakan dan sahut-sahutan oleh pengawal Kraton ketika melewati alun- alun utara, prosesi inilah yang dinamakan Gerebeg. Kata “Gerebeg” berarti suara bersik yang berasal dari teriakan orang-orang. Setelah melewati alun-alun utara, gunungan dibawa ke Masjid Agung untuk diberkati dan kemudian dibagikan kepada masyarakat.  Banyak masyarakat bahkan pengunjung yang ikut berebut untuk mendapat bagian dari gunungan. Mereka percaya bahwa makanan tersebut mengandung kekkuatan gaib yang akan memberikan manfaat bagi mereka. Bagi para petani, biasanya menanan sebagian dari hasil mereka berebut gunungan di tanah mereka. Mereka percaya bahwa mereka akan terhindar dari kesialan dan bencana. 

Selain Gerebeg Mulud, Di Jogja juga masih ada perayaan Gerebeg Besar yang diselenggarakan pada hari raya Kurban (Idul Adha), dan Gerebeg Syawal pada hari pertama bulan Syawal (Idul Fitri).


Tanggal Posting : Minggu, 02 Oktober 2011
Pengirim : Admin


Artikel Terbaru
Pulau Hari

Pulau hari merupakan sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang yang terletak di bagian timur kota Kendari Sulawesi Tenggara. Pulau ini terkenal dengan keindahan panorama alamnya yang masih alami. 

Permukaan air yang jernih

Pulau Kemaro

Pulau Kemaro merupakan sebuah pulau yang terletak di tengah Sungai Musi Palembang Sumatera Selatan. Pulau ini setiap tahunnya dijadikan pusat tempat perayaan Cap Go Meh, bagi warga keturunan China dari berbagai

Rujak Soto

Makan Rujak atau Soto mungkin Anda sudah pernah mencobanya, namun pernahkan Anda mencoba makanan campuran rujak petis dan kuah soto babat, makanan ini bernama Rujak Soto, Rujak Soto merupakan makanan khas

Candi Jago

Candi Jago  didirikan pada masa Kerajaan Singhasari  pada abad ke-13. Candi ini terletak di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, atau sekitar 22 km dari Kota Malang. Candi Jago memiliki keunikan

Tari Angguk

Tari Angguk meruapakan salah satu dari sekian banyak jenis kesenian rakyat yang ada di Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta. Tarian ini merupakan tarian yang disrtai dengan pantun-pantun rakyat yang berisi tentang berbagai

News Category

Sumatera

Jawa

Kalimantan

Sulawesi

Bali

Maluku

Nusa Tenggara

Papua

Online Support
hadisukirno1 transtiket1
Visitor