
Tari Angguk meruapakan salah satu dari sekian banyak jenis kesenian rakyat yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tarian ini merupakan tarian yang disrtai dengan pantun-pantun rakyat yang berisi tentang berbagai aspek kehidupan manusia, seperti pergaulan dalam hidup bermasyarakat, budi pekerti, nasehat-nasehat dan pendidikan. Dalam tarian ini juga dibacakan atau dinyanykan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab Tlodo, Walaupun bertuliskan huruf Arab, namun dilagukan dengan cengkok tembang Jawa. Nyanyian tersebut dinyanyikan secara bergantian antara pnari dan pengiring tetabuhan. Tak hanya itu, pada tarian ini juga terdapat satu hal yang sangat menarik dari kesenian ini, yaitu adanya pemain yang “ndadi” atau mengalmi trance pada saat puncak pementasannya. Sebagai masyarakat Yogyakarta percayabahwa penari angguk yang dapat “ndadi” memiki “ jimat” yang diperoleh dari juru kunci pesarean Begelen, Purworejo.
Tari Angguk dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan setelah panen padi. Tari Angguk ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Belanda. Untuk merayakannya, para muda-mudi bersukaria dengan beryanyi dan enari sambil mengangguk-anggukan kepala. Dari sinilah tarian ini dinamakan Tari Angguk. Biasanya Tari Angguk ini ditarikan pada saat acara perkawinan, perayaan 17 Agusts-an dan lain-lain.
Tari Angguk terdiri dari dua jenis, yaitu :
Pada awalnya tarian ini hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja, namun seiring dengan perkembangannya tarian ini juga dimainkan oleh perempuan. Para Pemain Angguk itu menggunakan busana yang terdiri dari dua macam, yaitu :
Peralatan musik yang digunakan untukmengiringi Tari Angguk antara lain adalah, kendang, bedug, tampar, kencreng, rebana 2 buah, Terbang besar dan jedor.